sore ini begitu hangat ketika aku berhasil menangkap matamu yang seutuhnya masih merinduku, aku bisa meraba perasaan hatimu kau begitu bahagia menangkap sosok yang pernah kau kagumi ini, perlahan rasa benci pudar menjadi dentangan musik kerinduan yang mebentuk irama do-re-mi, aku tau kau ingin teriak memelukku tapi jiwamu membiarkan tetap diam. menungu aku melangkah menemuimu.aku masih ingat ciuman lembut bibir itu, saat hujan rintik saat keheningan adalah milik kita. kau cium aku dengan harapan aku adalah mahluk Perempuan terakhir di muka bumi. dan sadarkah kau, aku begitu tersanjung. ingin kuangkat jiwamu setinggi alam raya dan memebentuk garis pelangi dan kunikamti setiap pagi.
senyuman itu kembali kutemukan saat sekian lama aku tak menemukan wujudmu. karna keangkuhanku untuk menaklukan egois dan emosi jiwa yang selalau menantangku bepetualang. pelukan sore ini dan ciuman tepat dipipimu meninggalkan senyuam yang perlahan menjadi tanda bahwa kita pernah merakit satu senyawa menjadi partikel pink lalu di tambah teori waktu hingga menjadi sistem abu-abu.
aku berhasi duduk di sampingmu, menikmati segelas es buah sambil melihat senyuman yang lama hilang. sedikit musik jazz masih terdengar sayup-sayup. hari ini aku melihat secerah harapan yg mengajakku bermain dalam aroma pink. dalam aroma kabut-kabut merah jambu hingga aku ingin kau berdansa sore ini. aku ingin memelukmu dan bercumbu resah dalam bayangan senyawa yang pernah hilang.
jiwamu begitu agung sebagai mahluk tuhan, hingga kita menjalin asmara dalam ikatan emosi yg kekal, aku tau kau merinduku. tapi jalanku begitu panjang. entah aku akan kembali memelukmu atau hanya diam sendiri memuja purnama, menikmati harum mewangi bunga di musim semi.
“Seandainya waktu bias berpihak pada hatiku?, seperti lagu blues yang kau mainkan di sore yang rintik. Aku hanya bisa melepas senyuman ini dengan nada cinta yang kau petik ewat dawai-dawai cinta.”
“maafkan aku, ternyata cinta yang ku beri adalah rintihan waktu yang mengoyak dinding waktu yang perlahan menjadi aroma-aroma kebengisan.”
“masih kau ingat malam2 kita di bawah purnama, kekal abadi dan menjadi sebuah kisah yang tak kan terlupa walau jejakmu tersapa angina.”
“sekali lagi kau begitu hebat, hingga aku bergetar saat aku melangkah, demi angkasa yang mengajaku berdamai dalam larutan waktu.”
aku terlahir tak mampu mencinta. aku terjerembab dalam warna pink yang menjijikan. bahkan aku terpaksa menelan coklat-coklat berbentuk daun waru. maaf aku tak pernah mengal semu itu. demi salju yang kau tumpahkan di benua yang berbeda Tuha. aku rela terbunuh dengan kesepian yang sangat. aku membiarkan malam itu dengan gambaran-gambaran pudar. aku tak bisa mencinta. aku lelaki yang menyedihkan. bahkan aku lelaki yang terbenam sepi Lumpur-lumpur samar. demi petunia dan demi alam seisinya aku lelaki yang menyedihkan.
Terimakasih untuk cinta sesaatmu
.....TTD.....
M.Faiz.Kamil
senyuman itu kembali kutemukan saat sekian lama aku tak menemukan wujudmu. karna keangkuhanku untuk menaklukan egois dan emosi jiwa yang selalau menantangku bepetualang. pelukan sore ini dan ciuman tepat dipipimu meninggalkan senyuam yang perlahan menjadi tanda bahwa kita pernah merakit satu senyawa menjadi partikel pink lalu di tambah teori waktu hingga menjadi sistem abu-abu.
aku berhasi duduk di sampingmu, menikmati segelas es buah sambil melihat senyuman yang lama hilang. sedikit musik jazz masih terdengar sayup-sayup. hari ini aku melihat secerah harapan yg mengajakku bermain dalam aroma pink. dalam aroma kabut-kabut merah jambu hingga aku ingin kau berdansa sore ini. aku ingin memelukmu dan bercumbu resah dalam bayangan senyawa yang pernah hilang.
jiwamu begitu agung sebagai mahluk tuhan, hingga kita menjalin asmara dalam ikatan emosi yg kekal, aku tau kau merinduku. tapi jalanku begitu panjang. entah aku akan kembali memelukmu atau hanya diam sendiri memuja purnama, menikmati harum mewangi bunga di musim semi.
“Seandainya waktu bias berpihak pada hatiku?, seperti lagu blues yang kau mainkan di sore yang rintik. Aku hanya bisa melepas senyuman ini dengan nada cinta yang kau petik ewat dawai-dawai cinta.”
“maafkan aku, ternyata cinta yang ku beri adalah rintihan waktu yang mengoyak dinding waktu yang perlahan menjadi aroma-aroma kebengisan.”
“masih kau ingat malam2 kita di bawah purnama, kekal abadi dan menjadi sebuah kisah yang tak kan terlupa walau jejakmu tersapa angina.”
“sekali lagi kau begitu hebat, hingga aku bergetar saat aku melangkah, demi angkasa yang mengajaku berdamai dalam larutan waktu.”
aku terlahir tak mampu mencinta. aku terjerembab dalam warna pink yang menjijikan. bahkan aku terpaksa menelan coklat-coklat berbentuk daun waru. maaf aku tak pernah mengal semu itu. demi salju yang kau tumpahkan di benua yang berbeda Tuha. aku rela terbunuh dengan kesepian yang sangat. aku membiarkan malam itu dengan gambaran-gambaran pudar. aku tak bisa mencinta. aku lelaki yang menyedihkan. bahkan aku lelaki yang terbenam sepi Lumpur-lumpur samar. demi petunia dan demi alam seisinya aku lelaki yang menyedihkan.
Terimakasih untuk cinta sesaatmu
.....TTD.....
M.Faiz.Kamil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar